Lewis Carroll (1894) menyusun skenario berikut: ada tiga tukang cukur — Allen, Brown, dan Carr — dengan aturan: jika Allen keluar, Brown harus menemaninya. Ditambah fakta: Carr selalu di dalam. Dari premis-premis ini, Carroll menurunkan kontradiksi yang tampak mustahil.
Inti masalahnya bukan pada toko cukurnya, melainkan pada bagaimana hypothetical syllogism (jika A maka B, jika B maka C) bisa menghasilkan rantai implikasi yang bertabrakan. Paradoks ini mendorong perkembangan logika proposisional modern dan menjadi cikal bakal diskusi tentang material conditional — bahwa pernyataan "jika A maka B" dianggap benar bahkan ketika A tidak terjadi.
← Kembali ke Daftar Paradoks