Rule-following Paradox

← paradoks.kyo.fyi

Saul Kripke (1982) menginterpretasikan Wittgenstein: saat menggunakan "+" dalam "68 + 57", bagaimana kita tahu kita mengikuti aturan penjumlahan bukan aturan "quus" (seperti penjumlahan, tapi menghasilkan 5 untuk semua input ≥ 57)? Semua penggunaan "+" di masa lalu kompatibel dengan aturan quus. Tidak ada fakta internal maupun eksternal yang menentukan aturan mana yang kita ikuti.

Ini menyerang fondasi semantik: tidak ada fakta yang membuat kata memiliki makna tertentu. Solusi Wittgenstein melalui Kripke: makna adalah praktik sosial — komunitas yang memvalidasi penggunaan. Tidak ada makna privat. Paradoks ini mendorong filsafat bahasa, teori pikiran, dan debat tentang mentalese dalam ilmu kognitif.

← Kembali ke Daftar Paradoks