Paradox of Nihilism

← paradoks.kyo.fyi

Nihilisme berargumen bahwa tidak ada nilai, makna, atau tujuan yang objektif. Namun paradoks: jika tidak ada yang bernilai, maka pernyataan nihilisme itu sendiri tidak bernilai — tidak ada alasan untuk menerimanya daripada kebalikannya. Nihilisme memotong cabang tempatnya duduk.

Nietzsche menghadapi ini secara langsung: nihilisme sebagai diagnosis dari krisis Eropa modern pasca-kematian Tuhan, bukan sebagai posisi akhir. Solusinya: penciptaan nilai baru (Übermensch, will to power). Albert Camus mengembangkan absurdisme sebagai respons: terima ketidakbermaknaan, namun tetap berkomitmen pada nilai yang dipilih sendiri. Paradoks ini adalah titik awal bagi banyak filsafat eksistensial abad ke-20.

← Kembali ke Daftar Paradoks