Rabbi Isaac Luria (abad ke-16) mengajukan: jika Tuhan (Ein Sof — tanpa batas) ada di mana-mana, tidak ada ruang bagi ciptaan yang lain. Maka Tuhan menarik diri ke dalam dirinya, menciptakan ruang kosong (tehiru) di mana alam semesta bisa ada. Tapi ini paradoks: bagaimana yang tak terbatas bisa berkurang? Dan apakah ruang yang tersisa setelah tzimtzum benar-benar kosong dari Tuhan?
Paradoks ini menghasilkan perdebatan teologis selama berabad-abad. Secara filosofis, ia menyentuh pertanyaan tentang bagaimana yang tak terbatas (infinite) berinteraksi dengan yang terbatas, relevan dalam diskusi tentang immanensi vs transendensi Tuhan. Gershom Scholem melihat tzimtzum sebagai metafora yang mendalam untuk kreativitas yang memerlukan pengekangan diri.
← Kembali ke Daftar Paradoks