G.E. Moore mengamati: "Hujan, tapi saya tidak percaya hujan" secara logis mungkin benar (hujan bisa turun tanpa sepengetahuan saya), namun absurd bagi saya untuk mengucapkannya. Jika saya mengucapkannya, saya mengklaim hujan turun (pernyataan pertama) namun juga mengklaim tidak mempercayainya — merusak pragmatik pernyataan sendiri.
Ludwig Wittgenstein menyebut ini salah satu paradoks paling penting yang pernah ditemuinya. Paradoks ini membedakan antara apa yang bisa benar dan apa yang bisa dinyatakan dengan tulus. Mendorong teori pragmatik bahasa (Grice) dan epistemologi tentang hubungan antara pernyataan, keyakinan, dan pengetahuan. Juga relevan dalam teori kepercayaan diri dan self-knowledge.
← Kembali ke Daftar Paradoks